Pernahkah Anda bertanya,
Dari siapa Anda meminjam Uang?

Sebagian besar dari anda yang sedang membaca artikel ini, mungkin merasa ini pertanyaan yang perlu dipertanyakan lagi. Terlalu sederhana dan terkesan konyol karena siapapun pasti tahu jawabannya.

Beberapa dari anda mungkin akan memberikan jawaban seperti meminjam uang dari Bank, Jasa Penyedia Dana Cepat, Koperasi, Pegadaian, atau pihak ketiga lainnya.
Sebagian lainnya akan menjawab meminjam uang dari saudara, teman, orang tua, keluarga atau bahkan tetangga.

Anda tidak salah. Tapi jika maksud pertanyaan saya adalah untuk mendapat jawaban demikian, maka pertanyaan tadi benar-benar tidak pantas untuk membuka tulisan ini. Saya menawarkan jawaban lain yang mungkin tidak pernah terpikirkan sebelumnya oleh anda. 😄


Melalui artikel ini, saya akan mencoba memberikan sudut pandang baru untuk menjawab pertanyaan sederhana tersebut; siapa yang sebenarnya meminjamkan anda uang?

Anda boleh setuju atau tidak. Jika nantinya setelah diulas anda memiliki sudut pandang sendiri, silakan tinggalkan dikolom komentar.

Selain itu, saya juga akan mencoba mengingatkan kembali kenapa meminjam uang akan mengharuskan anda melunasi utang tersebut dengan membayar lebih mahal dari jumlah yang selama ini anda bayangkan.

Bahaya Hutang
Source: Instagram

Siapa Yang Meminjamkan Uang ?



Seandainya hari ini anda meminjam sejumlah uang dari bank atau koperasi, penyedia dana cepat, pegadaian, keluarga, tetangga, atau yang lainnya, maka perlu anda ingat bahwa sebenarnya pihak-pihak ini sama sekali tidak memberikan uang sepeserpun kepada anda.

Anda mungkin tidak setuju, karena jelas-jelas anda telah menerima sejumlah uang dari pihak-pihak tersebut.
Itulah kenapa diawal saya mengatakan ingin mencoba memberikan sudut pandang yang lain dalam melihat pinjam-meminjam atau ngutang.

Lalu, dari siapa sebenarnya uang yang anda pinjam tersebut?

Begini,
Ketika anda meminjam uang, anda sebenarnya sedang meminjam dari diri anda sendiri di masa depan.

Coba anda pikirkan.

Uang yang anda pinjam dan gunakan hari ini adalah uang anda dimasa depan. Anda memaksa mengambil uang yang akan anda miliki dimasa mendatang dan menggunakannya hari ini. 

Itulah kenapa meminjam uang seperti sebuah proses yang ajaib. Anda bisa menggunakan sesuatu dari masa depan.

Proses ini jugalah yang akhirnya mengaburkan pandangan banyak orang terhadap pertanyaan, "darimana sebenarnya asal uang-uang yang mereka pinjam hari ini?"



Misalnya begini, hari ini anda mengingikan smartphone keluaran terbaru. Uang dari gaji anda tidak cukup, sehingga anda hanya memiliki tiga opsi (pilihan) untuk memenuhi keinginan tersebut :

  1. Menabung dan membelinya saat uang anda sudah cukup.
  2. Meminjam uang untuk membelinya.
  3. Mencuri uang atau mencuri smartphone tersebut. 

Opsi yang paling cepat dan murah adalah opsi ke 3, mencuri uang untuk membeli smartphone tersebut atau mencuri smartphonenya langsung. 😅
Tetapi, pilihan ini sangat tidak dianjurkan, karena ada konsekuensi hukum, moral, dan spiritual yang harus anda bayarkan jika melakukannya.

Opsi pertama (menabung), mengharuskan anda untuk hidup sesuai dengan kemampuan keuangan yang dimiliki. Anda harus melakukan manajemen keuangan dan menyusun anggaran agar anda dapat mengendalikan untuk apa saja dan kapan akan menggunakan uang gaji anda.

Termasuk mengatur bagaimana menyisihkan uang yang bisa disimpan sebagai tabungan setiap bulannya. Jadi, mau tidak mau anda harus sedikit bersabar untuk memiliki smartphone baru tersebut hingga jumlah tabungan yang anda miliki mencukupi.

Namun, jika anda adalah tipe orang yang tidak suka menunggu dan tdak berkompromi dengan keadaan, maka kemungkinan besar anda akan memilih opsi ke 2, yakni meminjam sejumlah uang untuk membeli smartphone tersebut.

Dibeberapa kasus, orang yang memutuskan memilih opsi ke 2 juga cenderung akan secara teratur meminjam uang untuk membeli segala sesuatu, mulai dari barang-barang kebutuhan pokok hingga urusan-urusan pribadi yang memerlukan banyak biaya.

Pada akhirnya, orang-orang dengan kebiasaan ini akan terjebak dalam lingkaran setan dan sulit untuk keluar. Hutang lagi dan lagi, sampai anda memasuki masa yang sering disebut tutup lubang buka lubang, atau hutang untuk memayar hutang.

Ada beberapa cara yang umumnya ditempuh saat seseorang memijam uang :

  1. Melalui kartu kredit
  2. Pinjaman Pribadi melalui Bank, Koperasi, dll.
  3. Pinjaman dari penyedia dana cepat.
  4. Menggadaikan sertifikat tanah, perhiasan, dll.
Semua cara diatas memiliki kelebihan/kekurangan, biaya, dan konsekuensi masing-masing yang harus anda terima.

Meski demikian, poin penting yang harus anda ingat adalah bahwa semua cara tersebut memiliki pola yang sama, yaitu:
  • Anda meminjam uang
  • Anda harus membayarnya kembali
Apapun kelebihan yang ditawarkan atau berapapun jumlah uang yang anda pinjam, pada akhirnya anda harus membayarnya kembali.

Bahkan setelah bertahun-tahun berlalu, saat smartphone atau kendaraan yang anda beli (dari meminjam uang) sudah ketinggalan jaman, anda masih harus membayar sedikit demi sedikit hutang tersebut.

Dan dari mana asal uang untuk membayar hutang-hutang itu?

Ya, dari hasil kerja keras anda hari ini.
Uang yang seharusnya menjadi rezeki dan hak anda hari ini. Tapi karena anda memaksakan untuk menggunakannya lebih cepat (melalui hutang beberapa tahun lalu), uang-uang tersebut hanya mampir lewat saja dikantong.

Celakanya, anda juga harus membayar lebih dari yang dulu pernah anda pinjam. Karena hampir semua lembaga atau organisasi penyedia pinjaman, bahkan keluarga atau sahabat sekalipun menetapkan berapa persen bunga pinjaman yang harus anda bayar.

Itulah kenapa saya berani mengatakan bahwa saat meminjam uang, anda sebenarnya meminjam uang dari diri anda sendiri dimasa depan. Tentu dengan konsekuensi anda harus membayar lebih mahal dari jumlah nominal yang pernah anda pinjam.


Lalu, Apakah Kita Tidak Boleh Pinjam Uang?

Setelah semua penjelasan diatas, maka kita akhirnya sampai pada pertanyaan penting yang mungkin terlintas dipikiran anda. Apakah kita tidak boleh meminjam uang?

Walaupun pada dasarnya saya lebih menyarankan agar sebisa mungkin anda menghindari meminjam uang, tapi kondisi ekonomi setiap orang yang berbeda-beda juga tidak bisa diabaikan. Oleh karena itu, untuk menjawab pertanyaan tersebut, maka perlu melihat alasan seseorang memutuskan meminjam uang.

Umumnya, terdapat empat alasan utama yang mendorong seseorang mengajukan pinjaman uang.


1. Kebutuhan Pokok
Ada banyak orang yang masih mengalami kesulitan keuangan, misal keluarga-keluarga yang berada dibawah garis kemiskinan. Jangankan untuk pergi berlibur bersama keluarga, untuk makan sehari-hari mereka harus bekerja keras. Kadang uang yang diperoleh cukup, kadang juga tidak cukup untuk makan sekeluarga.

Dalam kondisi ini, meminjam uang adalah hal yang sering tidak terhindarkan.

Namun, meski demikian mereka biasanya hanya meminjam uang ketika benar-benar terdesak dan jumlahnya pun tidak berlebihan. Cukup untuk sekedar membeli bahan makanan atau untuk membeli buku sekolah anak.


2. Modal Usaha
Alasan lain yang mendorong seseorang meminjam uang adalah kekurangan modal usaha. Anda pasti pernah atau mungkin sering melihat orang-orang yang meminjam uang sebagai modal awal memulai bisnis atau usaha.

Atau mungkin anda sendiri adalah orang yang sedang berencana atau telah meminjam uang untuk memulai sebuah bisnis.

Jika tujuannya adalah sebagai modal bisnis atau usaha (dan tidak ada lagi cara lain), maka mengambil pinjaman bukan sesuatu yang buruk. Bahkan anda harus berani melakukannya sebagai langkah awal untuk mencapai kemandirian ekonomi.


Walaupun tetap ada resiko anda akan terlilit hutang sana sini, namun keputusan untuk meminjam uang sebagai modal menjalankan bisnis  ini adalah salah satu langkah awal yang tepat. Karena kalau tidak, anda kemungkinan besar akan terus jalan ditempat. Tanpa kemajuan sama sekali.

Yang perlu menjadi perhatian anda adalah mengurangi kemungkinan resiko tersebut menjadi seminimal mungkin. Salah satunya adalah dengan cara memastikan bahwa peluang bisnis dan usaha anda untuk sukses terbuka lebar.

Dan tidak kalah penting adalah komitmen anda untuk serius menekuni bisnis atau usaha tersebut dan bertekad untuk tidak mudah putus asa. Kalau kata orang, "jangan cuma hangat-hangat tai ayam." 


3. Nafsu Keinginan
Alasan atau motivasi terburuk seseorang meminjam uang (ngutang) adalah demi memenuhi hasrat keinginan. 

Misal, 

Ingin punya HP baru, ngutang.

Beli baju branded, ngutang lagi.

Beli Tas bermerk, ngutang lagi.


Ingin punya motor, ngutang lagi.

Ingin punya mobil, ngutang lagi.

Ingin pergi liburan, ngutang lagi.

dan masih banyak keinginan-keinginan demi kesenangan dan gengsi yang bisa mendorong seseorang untuk ngutang sana sini.

Dan inilah yang harus anda hindari.

Karena cepat atau lambat, pasti anda akan terlilit beban hutang yang semakin besar. Hidup anda tidak akan bahagia.

Oleh karena itu, hiduplah sesuai dengan kemapuan anda saat ini. Kalau mau bergaya atau gengsi-gengsian, maka bergayalah sesuai isi dompet anda.


4. Kejadian Tak Terduga


Alasan lain yang membuat seseorang harus meminjam uang adalah karena terjadi peristiwa tak terduga, seperti tiba-tiba keluarga sakit keras, anak kecelakaan, tertimpa bencana, dll.

Meski terdengar wajar meminjam uang dalam kondisi seperti ini, namun sebenarnya anda juga telah melakukan kesalahan dijauh-jauh hari sebelumnya. Anda tidak pernah melakukan manajemen keuangan yang baik, sehingga anda tidak memiliki dana darurat yang seharusnya bisa digunakan saat ada kejadian-kejadian seperti ini.

Tips Agar Terbebas Dari Hutang



Sama seperti umumnya orang-orang, anda juga pasti ingin hidup tanpa perlu berhutang dan membebani hidup anda dengan kewajiban membayarnya.

1. Bersyukur. 
Dengan selalu merasa puas dengan apa yang anda miliki saat ini, anda akan terbiasa hidup sederhana. Anda tidak akan pernah dihantui oleh keinginan untuk memiliki barang-barang mewah yang harganya sepuluh bahkan seratus kali lipat dari besar gaji yang anda terima setiap bulannya.

2. Manajemen Keuangan Anda. 
Caranya buatlah anggaran, sehingga jelas setiap rupiah uang anda akan digunakan untuk apa dan kapan digunakan. Berapa biaya hidup bulanan dan berapa sisa uang yang bisa anda tabung, termasuk untuk tabungan dana darurat. Sehingga anda tidak perlu bingung jika terjadi hal-hal yang membutuhkan biaya secara mendadak.

3. Bekerja.
Ya, ini yang paling penting, BEKERJALAH !!!
Jika belum memiliki pekerjaan, cari.
Atau jika ada peluang usaha, ambil kesempatannya.
Jangan mudah menyerah.

Selama yang anda lakukan tidak merugikan orang lain atau sebuah kejahatan, maka kerjakanlah. JANGAN KEBANYAK GENGSI jika anda ingin hidup bergengsi nantinya.