Mas-Dajet-Penikmat-Senja



Kita hanya sebuah cerita yang ku kira istimewa.
Aku mewarnainya merah jambu, sementara kamu mewarnainya abu-abu.

Sementara waktu tak peduli, 
Cara dan sikapmu berhasil membuatku percaya bahwa kita ini istimewa. 
Bahkan semua sengaja ku tulis sempurna disetiap bab, sebelum akhirnya kamu memalingkan wajah dan berhenti disana.

Lalu angin berbisik sendu, "cerita ini tak seistimewa pikirmu"


Aku pergi...


Aku kira segala kerinduan akan menghilang seiring titik embun yang berjatuhan dari wajah dedaunan.

Aku kira bayang-bayangmu juga akan tergerus hilang bersama iringan hujan malam itu.

Tapi sekali lagi, Aku salah.


Aku seperti secangkir kopi hangat yang berharap menyambut fajar bersamamu. Dan nyatanya, kamu malah membiarkanku dingin sendiri menyambut mentari.


Ternyata asaku bukan asamu.

Dan cerita kita (tak) pernah seistimewa itu.