Bahaya-Belanja-Impulsif-dan-Cara-Mengatasinya
Bahaya Belanja Impulsif

Setelah bekerja dan memperoleh penghasilan tetap, maka merencanakan keuangan adalah satu hal yang sangat penting untuk dilakukan. Terlebih untuk teman-teman yang sudah membina kehidupan berumah-tangga. 

Setiap pengeluaran harus diperhatikan dan tercatat,  berapa yang dibutuhkan untuk urusan dapur, urusan perut, berapa yang akan dihabiskan untuk jalan-jalan, untuk bayar listrik berapa, air berapa, kos-kosan berapa, dan berbagai pengeluaran atau kebutuhan lainnya.

Intinya, membuat rencana keuangan atau penganggaran akan membuat kita tahu kemana dan untuk apa saja uang yang kita miliki digunakan.



Saya juga melakukannya. Dengan penghasilan sekitar *(teeet) juta-an per bulan, semua aliran keuangan telah saya rencanakan dengan baik. Selain untuk memastikan semua kebutuhan dapat terpenuhi, juga untuk memetakan berapa yang bisa saya simpan sebagai tabungan setiap bulannya.

Tapi, kadang, RENCANA tinggallah RENCANA. 😆

Karena diwaktu-waktu tertentu, setelah semua perencanaan keuangan dengan sangat detail dibuat, nyatanya saya sering tidak memiliki sisa uang untuk ditabung. Bahkan akhir bulan, keuangan saya sering masuk zona merah.

Lalu, pertanyaan yang tepat adalah
Why? Kenapa terjadi?



Akhirnya, saya menyadari sesuatu.

The danger point for ruining my budget!

Satu hal yang telah merusak semua rencana keuangan yang sudah susah-susah dibuat.
Satu kesalahan keuangan yang sering tidak disadari oleh kebanyakan orang saat ini.

Apa itu?

"Belanja Impulsif"

Teman-teman pernah mendengar istilah ini?


Kalau belum tahu, berikut ini adalah pengertian singkat yang pernah disampaikan oleh Rook (dalam Herabadi, 2003) :

Perilaku Belanja Impulsif merupakan perilaku belanja tanpa perencanaan, diwarnai oleh dorongan hati yang kuat untuk "membeli" sesuatu, yang muncul secara tiba-tiba dan sangat sulit ditahan, yang dipicu secara spontan saat berhadapan dengan suatu produk tertentu, dan diiringi oleh perasaan menyenangkan dan penuh gairah

Bagaimana?
Teman-teman pernah mengalaminya ?

Perilaku ini, bisa jadi adalah perilaku yang bisa membahayakan rencana keuangan banyak orang.

Dan disini, saya adalah orang pertama yang akan mengakui bahwa saya sering sekali melakukan perilaku belanja impulsif (yang saya sadari belakangan ini) dalam beberapa bulan terakhir.

Bahasa sederhananya, saya sering tergoda membeli ini dan itu (yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan).

Dan saya yakin, teman-teman juga pernah atau sering mengalaminya.

Misalkan, saat pergi ke sebuah pusat perbelanjaan dengan tujuan awal hanya untuk membeli peralatan mandi. Tapi setelah beberapa menit, entah iblis mana yang merasuki, kemudian teman-teman mulai melangkahkah kaki masuk ke toko-toko baju, toko-toko sepatu dan tas. Dan, SIM SALABIM !

Transaksi jual-beli berjalan begitu saja.

Atau saat sedang jalan-jalan, tiba-tiba terpampang tulisan "Diskon up to .....%", dan semuanya terjadi.

Padahal tidak ada niat sama sekali sebelumnya. Namun, kita sering pulang dengan barang bawaan yang cukup banyak. Dan, tentu saja dompet yang terasa sangat ringan.

Kalau teman-teman merasa perilaku belanja seperti ini sudah sering dialami, sebaiknya mulai sedikit belajar mengontrol diri. Karena perilaku ini dapat menjadi kebiasaan yang tidak sehat dan berdampak panjang bagi keuangan teman-teman dimasa yang akan datang.

Dalam level parah, mungkin teman-teman akan terbelit hutang.

Tips Menghindari Perilaku Belanja Impulsif

Tapi sebelumnya, kita sepakati dulu, belanja Impulsif adalah kebiasaan buruk yang tidak sehat bagi keuangan. khususnya buat kita yang tidak terlahir dikeluarga yang kaya raya, kita yang harus kerja siang malam untuk menghasilkan uang dalam jumlah yang cukup untuk makan sehari-hari.

Atau teman-teman yang memiliki rencana besar, seperti menyiapkan biaya pernikahan atau membangun rumah dalam beberapa tahun kedepan. Sehingga menabung juga menjadi salah satu kewajiban saat ini.

Nah, berikut ini adalah beberapa tips yang bisa saya share agar bisa sembuh dari perilaku belanja impulsif.

1. Komitmen pada diri sendiri.

Saya tahu, ini tips paling umum. Semua orang juga tahu, semua tergantung pribadi masing-masing. Tapi tanpa keinginan dan komitmen yang kuat pada diri sendiri, tips-tips berikutnya gak bakalan berguna sama sekali. Jadi, bulatkan tekad dulu deh 😁

2. Hindari pusat-pusat perbelanjaan.

Bukan berarti teman-teman gak boleh kemana-mana, tapi sebisa mungkin hindari dulu berkeliaran diseputaran pusat-pusat perbelanjaan.

Apalagi teman-teman sadar kalau teman-teman adalah tipe yang mudah sekali terpancing kalau lihat produk baru, model baru, atau keluaran terbaru yang makin kece.

Kalau memang cuma mau beli beras atau peralatan mandi, cukup ke warung-warung sebelah rumah aja.

3. Jangan mudah kepancing diskon.

Kita biasanya mudah sekali memutuskan untuk membeli suatu produk kalau lagi ada diskon.

"Kalau gak sekarang, kapan lagi ? mumpung murah banget"

Padahal barang tersebut sama sekali belum kita butuhkan untuk saat ini. Bahkan sering berakhir sebagai pajangan yang meramaikan isi lemari.

Intinya, teman-teman harus tahu mana kebutuhan dan mana yang bukan (hanya keinginan).

What about you? 
Any tips for avoiding impulse purchases?