Kini, apa kabarmu?
Sudah lama, sejak terakhir kita bertukar kabar.

Aku ?
Untuk sekedar kamu tahu, aku masih tertahan pada doa lamaku.
Masih kekeh berharap menjadi hujanmu.

Biarlah meski itu memang akan sakit saat terhempas dibebatuan bumi.

Tak apa, jika hadirku bisa mengubur debu yang lama membuat matamu berair dan kian memerah.

Aku masih begitu berharap.
Membawa beberapa tetes embun, lalu membasuh luka lamamu.

Atau membuatmu sedikit tersenyum, mendengar cerita yang ku bawa bersama gemercik ku.


Untukmu gadis penyuka hujan,
Aku tak berniat menjadi badai, lalu merubuhkan langit-langit rumahmu.
Aku tidak akan jatuh sekeras itu.

Tak juga mengajak angin topan datang menyapamu.
Aku akan datang dalam rindu.
Seperti yang biasanya kau bisikkan tempo hari.


Gadis Hujan,
Bisakah aku menjadi hujanmu itu.
Hujan tanpa petir, hujan tanpa musim.
Apa boleh?


Gadis Hujan,
Bisakah kamu seperti aku, merindu sebelum sempat kamu terpejam.
Atau terbangun dipagi buta hanya untuk sekedar memastikan kalau aku ada.

Jakarta, 7 Desember 2014