(Sebuah kontemplasi sederhana)

Bisa dibilang, sosok Ahok cukup fenomenal di Negeri ini. Dalam beberapa waktu terakhir, namanya kerap terdengar dimana-mana. Media cetak, media online, stasiun TV, timeline media sosial, bahkan sampai ke warung kopi dan angkringan pun nama Ahok santer menjadi pembahasan dalam suasana yang hangat bersahabat, kritis, bahkan tak jarang juga bernuansa panas.


Awalnya, sosok yang pernah menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta ini dikenal sebagai sosok yang sangat tegas dan berintegritas dalam bekerja. Suka ceplas-ceplos, semprot sana semprot sini. Hingga tak heran jika ada beberapa oknum yang tidak menyukai sosok beliau.



Beliau mengaku tak bisa tinggal diam jika melihat ada pekerjaan yang tak beres, terlebih kalau ia menduga terjadi penyelewengan yang merugikan keuangan negara dan masyarakat.

Yang paling heroik, saat ia beradu panas dengan DPRD DKI Jakarta terkait anggaran dalam APBD yang dinilainya tak masuk akal.

Apresiasi dan kekaguman terhadap sosok Ahok semakin menguat. Beberapa pihak yakin bahwa Ahok dipastikan akan kembali menjabat sebagai gubernur DKI Jakarta periode 2017-2022.

Didepannya, mungkin satu per satu rente yang selama ini leluasa menggerogoti uang rakyat mulai berhati-hati beraksi, bahkan banyak yang bersembunyi.

Ahok kemudian menjadi semakin fenomenal. Namun kali ini bukan soal kekaguman atas sikap dan kinerjanya. Melainkan kekecewaan yang muncul karena pidatonya di Kepulauan Seribu yang sempat menyinggung salah satu ayat Al-maidah.

Mulai dari kehebohan di dunia maya, pidato yang dianggap melecehkan kitab suci Al'Quaran itupun menjalar cepat hampir diseluruh pelosok negeri.



Tak pelak, suara tuntutan dan teriakan agar ahok diadili atas pidatonya tersebut menjadi sangat ramai dan ikut mengisi headline berbagai media berita. Bahkan kemudian, muncul beberapa kali gerakan kelompok umat muslim (salah satunya aksi 212) dengan turun ke jalan dengan tuntutan agar Ahok diadili. Ia dituduh telah melakukan penistaan terhadap kitab suci agama Islam, Al'quran.

Kasus ini, ditambah lagi dengan bumbu-bumbu perhelatan pilkada DKI Jakarta, telah membuat rakyat menjadi terkotak-kotak. Bukan saja rakyat ibu kota, bahkan masyarakat diberbagai wilayah pun mulai ikut mengkotak-kotakan diri (sadar atau tidak sadar menunjukan keberpihakan).
Ada yang pro Ahok, ada yang kontra Ahok, atau kemudian lebih dikenal dengan slogan "asal bukan Ahok."



Kini, hasil pilkada DKI Jakarta telah resmi diumumkan dan putusan pengadilan atas kasus penodaan agama yang dilakukan Ahok pun sudah ditetapkan. Ahok divonis 2 tahun hukuman penjara.

Pengajuan banding atas putusan tersebut juga telah di cabut. Artinya, Ahok akan menerima 2 tahun hukumannya dirumah tahanan.

Jadi sekarang, sudah waktunya kita kembali berjabat tangan dengan hangat, melempar senyum dan saling menghargai dalam pelukan ibu pertiwi.

Bagi Saudara yang anti ahok, bukalah pintu maaf baginya. Tidak ada manusia yang bebas dari kekhilafan. Beliau juga sudah berungkali menyampaikan permohonan maafnya 'kan?
Putusan hakim juga sudah berkekuatan hukum tetap.

Dan bagi pendukung Ahok.
Sebagaimana Ahok sudah ikhlas menerima semuanya, maka seharusnya kita tak perlu lagi menjadi terlalu ribut. Apalagi sampai beranggapan bahwa negara ini tak lagi menghargai minoritas, tak ada hak yang sama bagi setiap warga negara, apalagi berteriak ingin merdeka.

Melalui surat yang ia tulis sendiri (beberapa waktu lalu dibacakan oleh sang istri), Ahok telah menuliskan kalimat yang harusnya bisa menginspirasi kita semua.

......Tetapi saya telah belajar mengampuni dan menerima semua ini. Jika demi kebaikan berbangsa dan bernegara......

Begitulah isi sepenggal curahan hati Ahok yang ia tulis melalui suratnya. Sepenggal kalimat "demi kebaikan berbangsa dan bernegara" itu sudah cukup menunjukan bahwa Ahok termasuk orang yang memiliki jiwa nasionalisme dan cinta pada tanah airnya, Indonesia.

Lantas, kenapa kita yang katanya "mendukung" dan terinspirasi oleh Ahok malah mencaci-maki negara sendiri, apalagi berteriak minta merdeka.
Boleh saja kita tak sejalan dengan putusan hakim dan menilai hakim tak profesional.



Tapi di negara hukum seperti Indonesia, salah satu prinsif penting yang berlaku adalah bahwa keputusan hakim harus dapat diterima oleh siapa pun warga negara. Ia tak bisa diintervensi oleh kepentingan apapun selain maksud untuk penegakan hukum itu sendiri.
Jadi, mari kita sama-sama hormati proses hukum yang sedang atau telah berlangsung tersebut.

Dan yang paling penting, sosok Ahok yang mau bekerja keras, berintegritas, jujur dan bersih dalam mengupayakan kesejahteraan bagi masyarakat DKI Jakarta, harusnya bukan sekedar menjadi inspirasi sebatas kekaguman, apalagi sebatas lidah.

Tapi nilai-nilai yang ditunjukan Ahok melalui tindakannya selama ini harusnya juga dapat kita refleksikan dalam perilaku kita sehari-hari. Tak peduli apapun kedudukan, pekerjaan dan peran kita dalam masyarakat.

Karena sejatinya, bukan status dimedia sosial, ribuan karangan bunga atau jutaan nyala lilin yang akan menjadi penghargaan terbaik bagi sosok seperti Ahok. Tapi mencontoh nilai-nilai kebaikannya dalam kehidupan sehari-hari, berbuat baik dan jujur demi kepentingan orang lain adalah penghargaan yang sebenarnya.

Pak Ahok mungkin akan sangat bangga jika hadir "Ahok muda" yang mau bekerja keras, bersih, jujur, dan tulus melayani masyarakat.

Terakhir, terlepas apakah anda termasuk yang pro atau kontra terhadap sosok Ahok, ada pelajaran berharga yang dapat kita ambil dari kasus berkepanjangan yang menguras rasa dan emosi ini. Yakni, tentang saling menghargai, baik dalam bertindak atau bahkan dalam ucapan.

Bagaimanapun, ucapan Ahok terkait ayat Al-maidah tak bisa dibenarkan. Ada batas-batas norma dalam berbicara yang harus kita jaga dalam kehidupan yang sangat plural di negeri ini. Bukan untuk mengekang kebebasan berpendapat, tapi semata-mata untuk menjaga rasa persatuan dan saling memiliki kita sesama bangsa Ibu Pertiwi.

Paling akhir, Jangan pernah lupa bahwa NKRI Harga Mati !