Kamu adalah rahasia yang tak ingin ku tunjukan pada siapa-siapa.

Selama senja diatas sana tak banyak bicara,
Selama langit tak menuliskan dosa ini dihadapan dunia, biar aku saja,
yang mencintaimu sediam-diamnya kata.

Aku mengerti, jika mencintai hati yang tak lagi sendiri adalah sebuah kekeliruan.
Tapi hati bergetar bukan lagi kehendakku, ada yang Maha Menggetarkan.
Satu-satunya yang bisa ku kendalikan, tak lebih adalah memilih cara mencintaimu. Dan kuputuskan untuk diam.

Waktu berlalu, ternyata diam juga sering melelahkan. 

Lelah menarik diri dari rindu yang meluber tumpah tak bermuara. 
Lelah memalingkan wajah setiap kali kamu menangkap basah mata yang diam-diam memandangmu. Lalu berpura-pura untuk sibuk ini dan itu.

Anehnya, lelah itu malah seperti candu. 

Ada yang kurang jika ia tak ada.

Dan,
Jika suatu hari kamu mengerti aku sedang menyimpan rasa, berpura-puralah tak tahu. Agar kita tak perlu menghindar setiap kali bertemu.
Agar tak ada canggung ketika kita hanya duduk berdua seperti tempo hari. 

Biar ini menjadi rahasiaku yang hanyut bersama penyangkalan setiap kali mereka bernada sumbang.

Walaupun, Aku, dan Tuhan Tahu,

Rahasia ini tak pernah akan benar-benar tenggelam.
Satu-satunya jeda waktu dimana aku tak bisa merahasiakanmu, adalah semenit sujudku kepadaNya. Karena selalu ada namamu dalam setiap doa.