I LOVE TO WRITE

I AM

image
Hello,

Saya David Jeta Anapindika

Berkat pertempuran cinta sepasang sejoli di era tahun 90-an, tepatnya hari kamis, 23 September 1993, saya dihadirkan di atas muka bumi dengan penuh kebanggaan, meski dengan sekujur tubuh yang dipenuhi memar-memar.

Disela rutinitas sebagai seorang Civil Servant (PNS), saya sering menulis dan mempublikasikan tentang banyak hal dalam personal blog ini, terutama untuk menuangkan ide, opini, kecintaan saya pada sastra puisi, sharing tentang manajemen keuangan pribadi, serta menawarkan jasa desain website dan memperkenalkan produk 3BRO sebagai salah satu brand fashion.


Education
Institute Government Of Home Affairs

Bachelor of Financial Management


Experience
Civil Servant

Bone Bolango Regency

Adsense Publisher Partner

Google Asia Pacific


My Skills
Financial Manajement
Web Design
Writing
Marketing

WHAT CAN I DO

Web Design

Mendesain tampilan personal website (personal bolg) dan public website untuk keperluan bisnis ataupun organisasi profit/non-profit agar lebih menarik dan terlihat profesional

Financial Personal Consultant

Membantu manajemen keuangan pribadi anda dengan sharing-tips guna mencapai kemerdekaan finansial.

Writing Poetry

Hanya ingin menulis

Freelancers

Menyediakan jasa menulis artikel (bebas copyscape) dengan berbagai topik.

Photographic

---

Unlimited Support

Anda bisa menanyakan apapun, kita bisa berdiskusi apapun. Asal jangan tanya jodoh dimana!

SOME OF WORK

Kacaunya Rencana Keuangan Pribadi

Oleh 
David Jeta Anapindika, S.IP


Setelah bekerja dan memperoleh penghasilan tetap, maka merencanakan keuangan adalah satu hal yang sangat penting untuk dilakukan. Terlebih untuk teman-teman yang sudah membina kehidupan berumah-tangga.

Setiap pengeluaran harus diperhatikan dan tercatat,  berapa yang dibutuhkan untuk urusan dapur, urusan perut, berapa yang akan dihabiskan untuk jalan-jalan, untuk bayar listrik berapa, air berapa, kos-kosan berapa, dan berbagai pengeluaran atau kebutuhan lainnya.

Intinya, membuat rencana keuangan atau penganggaran akan membuat kita tahu kemana dan untuk apa saja uang yang kita miliki digunakan.


Saya juga melakukannya. Dengan penghasilan sekitar *(teeet) juta-an per bulan, semua aliran keuangan telah saya rencanakan dengan baik. Selain untuk memastikan semua kebutuhan dapat terpenuhi, juga untuk memetakan berapa yang bisa saya simpan sebagai tabungan setiap bulannya.

Tapi, kadang, RENCANA tinggallah RENCANA. 😆

Karena diwaktu-waktu tertentu, setelah semua perencanaan keuangan dengan sangat detail dibuat, nyatanya saya sering tidak memiliki sisa uang untuk ditabung. Bahkan akhir bulan, keuangan saya sering masuk zona merah.

Lalu, pertanyaan yang tepat adalah
Why? Kenapa terjadi?



Akhirnya, saya menyadari sesuatu.

The danger point for ruining my budget!

Satu hal yang telah merusak semua rencana keuangan yang sudah susah-susah dibuat.
Satu kesalahan keuangan yang sering tidak disadari oleh kebanyakan orang saat ini.

Apa itu?

"Belanja Impulsif"

Teman-teman pernah mendengar istilah ini?


Kalau belum tahu, berikut ini adalah pengertian singkat yang pernah disampaikan oleh Rook (dalam Herabadi, 2003) :

Perilaku Belanja Impulsif merupakan perilaku belanja tanpa perencanaan, diwarnai oleh dorongan hati yang kuat untuk "membeli" sesuatu, yang muncul secara tiba-tiba dan sangat sulit ditahan, yang dipicu secara spontan saat berhadapan dengan suatu produk tertentu, dan diiringi oleh perasaan menyenangkan dan penuh gairah

Bagaimana?
Teman-teman pernah mengalaminya ?

Perilaku ini, bisa jadi adalah perilaku yang bisa membahayakan rencana keuangan banyak orang.

Dan disini, saya adalah orang pertama yang akan mengakui bahwa saya sering sekali melakukan perilaku belanja impulsif (yang saya sadari belakangan ini) dalam beberapa bulan terakhir.

Bahasa sederhananya, saya sering tergoda membeli ini dan itu (yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan).

Dan saya yakin, teman-teman juga pernah atau sering mengalaminya.

Misalkan, saat pergi ke sebuah pusat perbelanjaan dengan tujuan awal hanya untuk membeli peralatan mandi. Tapi setelah beberapa menit, entah iblis mana yang merasuki, kemudian teman-teman mulai melangkahkah kaki masuk ke toko-toko baju, toko-toko sepatu dan tas. Dan, SIM SALABIM !

Transaksi jual-beli berjalan begitu saja.

Atau saat sedang jalan-jalan, tiba-tiba terpampang tulisan "Diskon up to .....%", dan semuanya terjadi.

Padahal tidak ada niat sama sekali sebelumnya. Namun, kita sering pulang dengan barang bawaan yang cukup banyak. Dan, tentu saja dompet yang terasa sangat ringan.

Kalau teman-teman merasa perilaku belanja seperti ini sudah sering dialami, sebaiknya mulai sedikit belajar mengontrol diri. Karena perilaku ini dapat menjadi kebiasaan yang tidak sehat dan berdampak panjang bagi keuangan teman-teman dimasa yang akan datang.

Dalam level parah, mungkin teman-teman akan terbelit hutang.

Tips Menghindari Perilaku Belanja Impulsif

Tapi sebelumnya, kita sepakati dulu, belanja Impulsif adalah kebiasaan buruk yang tidak sehat bagi keuangan. khususnya buat kita yang tidak terlahir dikeluarga yang kaya raya, kita yang harus kerja siang malam untuk menghasilkan uang dalam jumlah yang cukup untuk makan sehari-hari.

Atau teman-teman yang memiliki rencana besar, seperti menyiapkan biaya pernikahan atau membangun rumah dalam beberapa tahun kedepan. Sehingga menabung juga menjadi salah satu kewajiban saat ini.

Nah, berikut ini adalah beberapa tips yang bisa saya share agar bisa sembuh dari perilaku belanja impulsif.

1. Komitmen pada diri sendiri.

Saya tahu, ini tips paling umum. Semua orang juga tahu, semua tergantung pribadi masing-masing. Tapi tanpa keinginan dan komitmen yang kuat pada diri sendiri, tips-tips berikutnya gak bakalan berguna sama sekali. Jadi, bulatkan tekad dulu deh 😁

2. Hindari pusat-pusat perbelanjaan.

Bukan berarti teman-teman gak boleh kemana-mana, tapi sebisa mungkin hindari dulu berkeliaran diseputaran pusat-pusat perbelanjaan.

Apalagi teman-teman sadar kalau teman-teman adalah tipe yang mudah sekali terpancing kalau lihat produk baru, model baru, atau keluaran terbaru yang makin kece.

Kalau memang cuma mau beli beras atau peralatan mandi, cukup ke warung-warung sebelah rumah aja.

3. Jangan mudah kepancing diskon.

Kita biasanya mudah sekali memutuskan untuk membeli suatu produk kalau lagi ada diskon.

"Kalau gak sekarang, kapan lagi ? mumpung murah banget"

Padahal barang tersebut sama sekali belum kita butuhkan untuk saat ini. Bahkan sering berakhir sebagai pajangan yang meramaikan isi lemari.

Intinya, teman-teman harus tahu mana kebutuhan dan mana yang bukan (hanya keinginan).

What about you? 
Any tips for avoiding impulse purchases?

Aku [mungkin] Baik-Baik Saja

Penulis

Malam berhujan, jatuh terlalu keras menghantam seisi bumi.
Membungkam semesta dengan nada-nada tak beraturan.
Memaksa dingin memeluk rindu yang kehilangan arah.
Rasa yang tak lagi bertuan.

Kita berdiri disatu sisi gedung itu, berteduh dan beradu alibi.

Siapa yang pergi?
Baik aku atau kamu, kita merasa ditinggalkan.

Entah siapa yang meninggalkan luka?
Kita mengaku sama terlukanya.

Kita tak lagi terlihat layaknya dua manusia yang saling mencinta.

Kita akhirnya dua hati yang sengaja berjarak, sambil terus membela diri.

Kita (mungkin) baik-baik saja.
Cinta belumlah serupa seindah dongeng.

Gorontalo,
28 Maret 2019

Sebuah Perjalanan


Karena waktu terus mengalir meninggalkan jejak-jejak cerita. Sementara diri kian menua melemahkan ingatan.

Biar ku pajang saja. Setiap jalan yang menyisakan segala bentuk kenangan ini. 
Mungkin, kelak akan ada waktu saat aku rindu bertemu, rindu kembali pada masa yang telah berlalu.

Pendidikan, Wisuda dan 
Pelantikan Pamong Praja Muda
IPDN
Mendulang Mimpi Demi Mereka Yang Terkasih


Mengejar Senja Dalam Dekapan Rindu


Sajak Kecil

David Jeta

Dihitungan detik terakhir pertemuan itu.
Hati sengaja melukis senyummu dalam ilusi.
Getaran kecil tak terdefinisi menyertai hingga tutup hari.

Namamu tiba-tiba tertulis disetiap sudut pandang bumi.
Ku buat penyangkalan yang menjatuhkanku pada rindu.

Tanpa perlawanan,
Aku terperangkap pada ilusi hati yang ku cipta tanpa kendali.

Potongan-potongan gambar pertemuan tempo hari.
Aku mengingatnya sembari memetakan setiap rasa.

Dan sajak kecil ini,
Sengaja ku tulis kala mengingatmu.

Gorontalo, 
20 Desember 2017

Semua Gara-gara seorang Ahok.

Oleh: David Jeta Anapindika, S.IP

(Sebuah kontemplasi sederhana)

Bisa dibilang sosok Ahok cukup fenomenal di Negeri ini. Dalam beberapa waktu terakhir, namanya kerap terdengar dimana-mana. Media cetak, media online, stasiun TV, timeline media sosial, bahkan sampai ke warung kopi dan angkringan pun nama Ahok santer menjadi pembahasan dalam suasana yang hangat bersahabat, kritis, bahkan tak jarang juga bernuansa panas.
Awalnya, sosok yang pernah menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta ini dikenal sebagai sosok yang sangat tegas dan berintegritas dalam bekerja. Suka ceplas-ceplos, semprot sana semprot sini. Hingga tak heran jika ada beberapa oknum yang tidak menyukai sosok beliau.



Beliau mengaku tak bisa tinggal diam jika melihat ada pekerjaan yang tak beres, terlebih kalau ia menduga terjadi penyelewengan yang merugikan keuangan negara dan masyarakat. Yang paling heroik, saat ia beradu panas dengan DPRD DKI Jakarta terkait anggaran dalam APBD yang dinilainya tak masuk akal.

Apresiasi dan kekaguman terhadap sosok Ahok semakin menguat. Beberapa pihak yakin bahwa Ahok dipastikan akan kembali menjabat sebagai gubernur DKI Jakarta periode 2017-2022.

"Didepannya, mungkin satu per satu rente yang selama ini leluasa menggerogoti uang rakyat mulai berhati-hati beraksi, bahkan banyak yang bersembunyi."

Ahok kemudian menjadi semakin fenomenal. Namun kali ini bukan soal kekaguman atas sikap dan kinerjanya. Melainkan kekecewaan yang muncul karena pidatonya di Kepulauan Seribu yang sempat menyinggung salah satu ayat Al'quran (Al-maidah).

Mulai dari kehebohan di dunia maya, pidatonya yang dianggap melecehkan kitab suci Al'Quaran itupun menjalar cepat hampir diseluruh pelosok negeri.



Tak pelak, suara tuntutan dan teriakan agar ahok diadili atas pidatonya tersebut menjadi sangat ramai dan ikut mengisi headline berbagai media berita. Bahkan kemudian, muncul beberapa kali gerakan kelompok umat muslim (salah satunya aksi 212) dengan turun ke jalan dengan tuntutan agar Ahok diadili. Ia dituduh telah melakukan penistaan terhadap kitab suci agama Islam, Al'quran.

Kasus ini, ditambah lagi dengan bumbu-bumbu perhelatan pilkada DKI Jakarta, telah membuat rakyat menjadi terkotak-kotak. Bukan saja rakyat ibu kota, bahkan masyarakat diberbagai wilayah pun mulai ikut mengkotak-kotakan diri (sadar atau tidak sadar menunjukan keberpihakan).
Ada yang pro Ahok, ada yang kontra Ahok, atau kemudian lebih dikenal dengan slogan "asal bukan Ahok."



Kini, hasil pilkada DKI Jakarta telah resmi diumumkan dan putusan pengadilan atas kasus penodaan agama yang dilakukan Ahok pun sudah ditetapkan. Ahok divonis 2 tahun hukuman penjara.

Pengajuan banding atas putusan tersebut juga telah di cabut. Artinya, Ahok akan menerima 2 tahun hukumannya dirumah tahanan.

Jadi sekarang, sudah waktunya kita kembali berjabat tangan dengan hangat, melempar senyum dan saling menghargai dalam pelukan ibu pertiwi.

Bagi Saudara yang anti ahok, bukalah pintu maaf baginya. Tidak ada manusia yang bebas dari kekhilafan. Beliau juga sudah berungkali menyampaikan permohonan maafnya 'kan?
Putusan hakim juga sudah berkekuatan hukum tetap.

Dan bagi pendukung Ahok.
Sebagaimana Ahok sudah ikhlas menerima semuanya, maka seharusnya kita tak perlu lagi menjadi terlalu ribut. Apalagi sampai beranggapan bahwa negara ini tak lagi menghargai minoritas, tak ada hak yang sama bagi setiap warga negara, apalagi berteriak ingin merdeka.

Melalui surat yang ia tulis sendiri (beberapa waktu lalu dibacakan oleh sang istri), Ahok telah menuliskan kalimat yang harusnya bisa menginspirasi kita semua.

"......Tetapi saya telah belajar mengampuni dan menerima semua ini. Jika demi kebaikan berbangsa dan bernegara......"

Begitulah isi sepenggal curahan hati Ahok yang ia tulis melalui suratnya. Sepenggal kalimat "demi kebaikan berbangsa dan bernegara" itu sudah cukup menunjukan bahwa Ahok termasuk orang yang memiliki jiwa nasionalisme dan cinta pada tanah airnya, Indonesia.

Lantas, kenapa kita yang katanya "mendukung" dan terinspirasi oleh Ahok malah mencaci-maki negara sendiri, apalagi berteriak minta merdeka.
Boleh saja kita tak sejalan dengan putusan hakim dan menilai hakim tak profesional.



Tapi di negara hukum seperti Indonesia, salah satu prinsif penting yang berlaku adalah bahwa keputusan hakim harus dapat diterima oleh siapa pun warga negara. Ia tak bisa diintervensi oleh kepentingan apapun selain maksud untuk penegakan hukum itu sendiri.
Jadi, mari kita sama-sama hormati proses hukum yang sedang atau telah berlangsung tersebut.

Dan yang paling penting, sosok Ahok yang mau bekerja keras, berintegritas, jujur dan bersih dalam mengupayakan kesejahteraan bagi masyarakat DKI Jakarta, harusnya bukan sekedar menjadi inspirasi sebatas kekaguman, apalagi sebatas lidah.

Tapi nilai-nilai yang ditunjukan Ahok melalui tindakannya selama ini harusnya juga dapat kita refleksikan dalam perilaku kita sehari-hari. Tak peduli apapun kedudukan, pekerjaan dan peran kita dalam masyarakat.

Karena sejatinya, bukan status dimedia sosial, ribuan karangan bunga atau jutaan nyala lilin yang akan menjadi penghargaan terbaik bagi sosok seperti Ahok. Tapi mencontoh nilai-nilai kebaikannya dalam kehidupan sehari-hari, berbuat baik dan jujur demi kepentingan orang lain adalah penghargaan yang sebenarnya.

Pak Ahok mungkin akan sangat bangga jika hadir "Ahok muda" yang mau bekerja keras, bersih, jujur, dan tulus melayani masyarakat.

Terakhir, terlepas apakah anda termasuk yang pro atau kontra terhadap sosok Ahok, ada pelajaran berharga yang dapat kita ambil dari kasus berkepanjangan yang menguras rasa dan emosi ini. Yakni, tentang saling menghargai, baik dalam bertindak atau bahkan dalam ucapan.

Bagaimanapun, ucapan Ahok terkait ayat Al-maidah tak bisa dibenarkan. Ada batas-batas norma dalam berbicara yang harus kita jaga dalam kehidupan yang sangat plural di negeri ini. Bukan untuk mengekang kebebasan berpendapat, tapi semata-mata untuk menjaga rasa persatuan dan saling memiliki kita sesama bangsa Ibu Pertiwi.

Paling akhir, Jangan pernah lupa bahwa NKRI Harga Mati !


Start Work With Me

Contact Us
DAVID JETA
+62812-4520-4652
Lombok, NTB